Friday, April 23, 2010

I Still Remember Everything (part 2)

Hari itu awan melindungi sinar matahari yang cukup terik, angin pun datang silih berganti menyusup ditengah-tengah kehidupan yang sedang Ia jalani. Cukup penat dan terasa berat dikala persoalan baru muncul kembali. Setiap rutinitas berjalan tanpa Ia nikmati dengan santai. Satu demi satu datang dan pergi meninggalkan jejak di dalam memori ingatannya, memberikan pelajaran penting untuk hidupnya yang akan terasa berat jika Ia tak memulainya dari sekarang. Menurutnya “learn everything by day as time goes by” . Ia adalah tipe pria yang memikirkan segala sesuatu halnya, menurutnya apabila semuanya dirancang dengan baik akan lebih mudah dan menjadi hasil yang sempurna. Begitu pun acara yang sedang berlangsung dimana Ia menjadi panitia pelaksananya. Sudah mulai dari 2 malam kemarin Ia menginap di lokasi acara hanya untuk memastikan bahwa tidak ada satu hal pun yang akan terlewatkan menyambut puncak acara esok hari. Kesibukannya di hari itu membuatnya lelah, Ia telah lupa untuk istirahat sejenak dan memakan jatah makan siangnya yang telah disediakan untuk panitia. Ia merasa dirinya sebentar lagi akan tumbang, kaki-kakinya sudah tidak memungkinkan lagi untuknya terus berlari mengerjakan job desk-nya di acara itu. Ia berniat menghempaskan dirinya di ruang panitia, berbaring sejenak dan meminum segelas air putih. Akan tetapi ada sesuatu hal yang membuatnya terkejut, yang membuat tenggorokannya terasa tercekat. Ia melihat sekelompok kecil orang sedang berfoto-foto di samping ruang panitia yang akan Ia tuju. Mereka dengan santainya berpose layaknya seorang model, sedangkan ada seorang temannya yang dengan stand-by memegang kamera. Hal seperti itu sebenarnya bukan hal yang dilarang, hanya saja ada yang sesuatu hal yang Ia lihat berbeda. Gadis yang telah meruntuhkan dinding pertahanan hatinya itu telah berada disitu, Ia yang sedang memegang kamera itu adalah seseorang yang sekarang menempati tempat istemewa di hatinya. Tanpa disadarinya Ia telah berhenti dari langkah kakinya yang hendak menuju ruang panitia. Ia amat menikmati gaya yang gadis itu lakukan, setiap gerakannya bagaikan pemandangan alam yang sudah lama Ia tak jumpai.
“hei, apa yang sedang kau lakukan Greg?”
“ah, tidak, aku hanya ingin pergi ke ruang panitia. Aku ingin beristihat sebentar disana”.
“yah, kau memang terlihat lelah sekali, memang lebih baik kau istirahat. Butuh aku panggilkan tim medis?”
“ah, tidak perlu. Terima kasih”.
“baiklah, kalau begitu, akan kuantar kau ke ruang panitia. Ayolah”.
Rasanya ada angin yang berhembus ketika Ia berjalan di belakangnya, angin kesejukan yang bercampur aroma parfum yang Ia gunakan. Aroma bunga lily yang diakhiri oleh wangi segarnya buah-buahan. Rasanya tampak manis untuk dihirup setiap orang yang berada disampingnya.
***

Lama setelah acara itu berlalu, kesibukannya menjadi padat seperti biasanya. Mungkin acara itu adalah acara terakhir dimana Ia akan memfokuskan diri pada pekerjaan lainnya. Pekerjaan baru yang Ia harap dapat membawanya ke dalam dunia yang baru, ke dalam suasana yang lebih menyadarkannya dari mimpi yang enggan Ia tinggalkan. Setelah sekian lama Ia menyesali akan perasaanya yang terus menggerogotinya, menusuk hatinya yang paling dalam, dan membuat hidupnya menunggu dalam sebuah ketidakpastian. Jauh dari dalam alam dasarnya, Ia merindukan getaran perasaan seperti waktu pertama kali Ia bertemu Mandy, sang pianis handal yang mencuri hatinya. Ia masih mengingat setiap kenangan yang boleh terjadi menjadi suatu memori yang indah. Memori yang tidak pernah akan Ia lupakan, karena alam telah menjadi saksi setiap kejadian yang ada. Ditengah lamunannya, Ia mengingat gadis yang Ia telah jumpai 2 kali itu. Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak, dan Ia sulit untuk bernafas. Entah mengapa Ia merindukan sekali gadis itu, masih terngiang dengan jelasnya suaranya menyebutkan nama”Vien”. Tanpa berpikir panjang pun Ia lekas menelepon temannya yang memperkenalkan mereka. Temannya berkata bahwa Vien bekerja di salah satu instansi photo studio independent, laki-laki itu bermaksud untuk mencari tahu lebih lanjut tentang gadis itu. Akan tetapi ketika Ia bertanya lebih lanjut tentang identitasnya, temannya berkata
“Greg, aku tahu maksudmu. Kau pasti telah jatuh hati padanya bukan ?”
“hahaha .. mengapa kau bisa berbicara seperti itu ?”
“aku tahu dirimu Greg, engkau bukannlah seorang yang terlalu peduli terhadap yang lain. Apalagi ini adalah masalah lawan jenis, engkau bukanlah seorang yang suka mencari tahu kalau tidak menyangkut pikiranmu. Benarkan, kau telah jatuh hati padanya ? ayo,, mengakulah ?”
“yahh ,, aku memang memikirkannya. Dan aku pun tidak tahu mengapa. Ia datang bagaikan angin di musim semi yang membawa harum bunga-bunga bermekaran”.
“ahh ,, kau ini .. ternyata kau sangat memikirkannya. Greg,, ada sesuatu hal yang kutahu tentang gadis itu, dan aku ingin kau tahu”.
“apa itu?”
“setahuku, Ia adalah gadis yang ambisius, sama halnya dengan kecintaannya pada setiap foto-foto yang Ia ambil”.
“lalu ?? memangnya apa sangkut pautnya denganku ?”
“Greg, Ia sedang menunggu pria lain”.
***

### please wait and see the next post blog ###

No comments:

Post a Comment

Web Page Counter
Marked down products